SABIRIN LAMNO
Asmara Suboh 2 download
Dara Mutiara download
Gara-Gara Buntut download
Hutang Meulingka download
Korban PHK download
Misteri Rumoh Geudong download
Tunangan download
Minggu, 28 Oktober 2012
Sabtu, 27 Oktober 2012
Kamis, 25 Oktober 2012
SOPAN SOFYAN
Gaba Gaba Oen Ue Kuneng download
Hana Le Laen download
Janji Silanget download
Jasa Poma download
Kupendam Rasa download
Kupendam Rasa (slow) download
Lentera Cinta download
Madu Meuracoen download
Meuligo Cinta download
Mutiara download
Saboh Harapan download
Senang Hate download
Sibungong Pade download
Gaba Gaba Oen Ue Kuneng download
Hana Le Laen download
Janji Silanget download
Jasa Poma download
Kupendam Rasa download
Kupendam Rasa (slow) download
Lentera Cinta download
Madu Meuracoen download
Meuligo Cinta download
Mutiara download
Saboh Harapan download
Senang Hate download
Sibungong Pade download
Senin, 22 Oktober 2012
POLA PEMIMPIN DALAM ISLAM
Oleh : Drs. H. Ahmad Bangun Nst, MA
Oleh : Drs. H. Ahmad Bangun Nst, MA
Alkisah di masa
kejayaan Irak yang ketika itu dipimpin oleh Harun Al Rasyid, berkunjunglah
seorang ulama besar bernama Shihab. Dalam jamuan tersebut Harun Al Rasyid
meminta petunjuk tentang bagaimana cara memimpin Daerah Irak dengan baik. Lalu,
sang Ulama tak segera menjawab, ia hanya mengajak Harun untuk berjalan
mengelilingi Daerah di tengah gurun pasir nan tandus, di tengah hari pertama,
di atas teriknya matahari, Harun pun kehausan, dan tak satupun tempat yang
memiliki dan menyediakan air, lalu sang ulama pun bertanya, ya Raja, jika ada
seseorang yang dapat memberikanmu air di tengah terik dan dahaga ini, apa yang
akan kau berikan padanya?, lalu Harun-pun menjawab, aku akan memberikan separuh
kekuasaanku di Irak ini.
Usailah
perjalanan di hari pertama, lalu di hari kedua juga terjadi hal yang sama. Di
tengah terik matahari dan haus dahaga, kembali sang ulama bertanya, ya raja,
apakah yang akan kau berikan jika ada seseorang membawakanmu air di tengah
dahaga ini?, lalu sang Raja-pun menjawab, aku akan memberikan separuh
kekuasaanku di Irak ini. Sampai disitu, lalu sang ulama pun mengatakan, ya raja
ada dua hal yang perlu kau ketahui, pertama, kau sudah menjual Irak ini hanya
dengan dua gelas air untuk menghilangkan dahagamu, itu tertanda bahwa kau
merasa bahwa kau telah memiliki jabatanmu sepenuh diri.
Kedua, dengan
keputusanmu untuk memberi seluruh kekuasaanmu di Irak ini hanya dengan dua
gelas, pertanda bahwa kau masih terpengaruh dengan kekeringan, kesusahan
dirimu. Sementara banyak rakyatmu yang mungkin lebih ber-dahaga darimu.
Hikayat diatas
paling tidak bisa memberikan kita sebuah harapan terhadap pemimpin Sumatera
Utara kedepannya. Bahwa apatisme rakyat masih bermain tajam di tengah otoritas
demokrasi di bangsa ini. Mau tidak mau, pemenang pemilukada Daerah Sumut tahap
pertama lalu adalah Golput. Hal ini adalah indikasi besar bahwa masyarakat
secara luas tidak merasakan pengaruh yang besar terhadap kepemimpinanya.
Disamping besarnya peran media yang meng-audit secara tajam pula tentang
kinerja pemerintahan Daerah secara menyeluruh.
Untuk itu pula
kita bisa menitipkan pesan hangat menjelang kepemimpinannya nanti, dan teguran
hangat sebelum memimpin nantinya. Mungkin, hikayat di atas tidak cukup menjadi
referensi yang tangguh untuk memberikan contoh dan harapan tentang sebuah
kepemimpinan, tapi paling tidak, hikayat di atas bisa jadi bahan renungan dan
selanjutnya bahan saduran memimpin Daerah Sumut kedepannya.
Pertama,
siapapun pemimpin Daerah Sumut kedepannya, jadilah seorang pemimpin yang
“menangis”, menangis jika anda lupa bahwa kepemimpinan itu adalah amanah. Tidak
ada satu alasanpun yang bisa menggadaikan kepemimpinanmu jika itu adalah
tindakanmu secara pribadi. Yang memimpin itu adalah ke-amanahmu yang dipercayai
rakyat, bukan dirimu secara pribadi. Jadi lepaskanlah ketergantunganmu terhadap
kekuasaan yang sedang kau pegang dengan kebutuhan dirimu secara pribadi.
Betapa naifnya
seorang pemimpin jika ia merasa bahwa kekuasaan yang sedang ia pegang itu
membuatnya hebat di semua tempat, tapi jadikanlah kekuasaanmu sebagai batu
acuan untuk mencari tahu seberapa besar rakyat menggantungkan harapan terhadap
kekuasaanmu.
Kedua, jadilah
pemimpin yang melupakan diri sendiri. Maksudnya, lupakanlah dirimu dengan
segala jabatan yang sedang kau pegang, karena ketika jabatan itu kau pikul,
sebenarnya kau sedang berusaha mempertahankan kepercayaan rakyat ketikan
memilihmu, untuk itu tabulasi-lah keinginan rakyat itu, lalu kerjakanlah dan
wujudkanlah. Ingat, jabatan yang kau pegang itu bukan sarana untuk mewujudkan
keinginanmu secara pribadi , tapi jabatan itu adalah wujud dari kelayakanmu
menjadi pemimpin untuk mewujudkan keinginan masyarakat yang sedang kau pimpin.
Ketiga, jadilah
pemimpin yang elastisformalistis (istilah dari penulis). Elastic menghadapi
besar dan ragamnya keinginan dan harapan rakyat, ke-elastisan itu akan
membuatmu selalu berfikir lalu bertindak untuk menentukan kebijakan yang
ber-maslahat. Ingat, tidak semua hal ter-adili hanya dengan sesuatu yang
sifatnya formalistic tetaplah menjalankan aturan dan perundang-undangan yang
berlaku, hal itu membuatmu menjadi orang yang disiplin dan patuh aturan. Sebab
manusia yang bijak adalah manusia yang patuh aturan.
Setidaknya
ketiga masukan inilah yang harapannya bisa menjadi bahan renungan, kajian dan
terus awalan untuk pemimpin Daerah Sumut ini kedepannya. Lebih jauh, kita jiuga
bisa melihat konsep yang ditawarkan Muhammad Iqbal dalam bukunya Fiqh Siyasah,
bahwa ada beberapa kriteria pemimpin yang ideal :
1.
Prinsip kedudukan manusia di bumi. Manusia
ketika hendak menjadi pemimpin di dunia, harus benar-benar menyadari apa
kedudukannya dan fungsinya di dunia ini. Hal ini tentunya berkaitan dengan
nilai-nilai ketauhidan yang harus menyadari bahwa diatas kepemimpinan diri ada
yang lebih memimpin dan menguasai, yaitu Allah SWT. Proses penyadaran diri
terhadap fungsi dan kedudukan ini akan menghilangkan rasa tinggi hati, curang,
merasa kuat dan menghindarkan diri dari segenap kebijakan yang sifatnya diskriminatif
terhadap kebutuhan rakyat banyak.
2.
Prinsip kekuasaan sebagai amanah. Pemimpin yang
ideal sesungguhnya mengawali kepemimpinannya dari keinginan masyarakat luas
untuk menjadikannya sebagai pemimpin sebab telah mengetahui sejauh mana
kapabilitasnya jika orang tersebut menjadi pemimpin. Optimisme untuk menjadi
seorang pemimpin. Optimisme untuk menjadi seorang pemimpin harus didasari dari
prinsip amanah dan tanggung jawab. Kepemimpinan yang dipikul adalah sebuah
tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan secara sempurna dihadapan
masyarakat.
3.
Prinsip penegakan keadilan. Seseorang pemimpin
kedepannya harus benar-benar yang memiliki I’tikad dan program kerja yang adil
dan memberikan keadilan. Tidak diskriminatif dan menjalankan amanat
Undang-undang yang berlaku. Miskin, kaya. Pejabat dan masyarakat bisa bukan
menjadi ukuran dalam bertindak dan memutuskan perkara. Pemimpin yang tidak
“mempelintir” nilai keadilan menurut kehendak hatinya. Namun keadilan yang
memang dimaksud dalam nilai-nilai keislaman.
4.
Prinsip amar ma’ruf nahyi munkar. Seorang
pemimpin harus konsisten terhadap nilai amar ma’ruf nahyi munkar. Tidak
menyeleweng untuk mengkondisionalkan bagaimana tipologi amar ma’ruf menurut
kehendak hatinya. Namun tetap mengukur amar ma’ruf dari nilai-nilai yang
tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah.
5.
Prinsip profesionalisme, akuntabilitas dalam
pengisian jabatan pemerintahan. Seorang pemimpin harus mampu memilih rekan
kerjanya dengan benar-benar melihat fungsi dan kapabilitasnya. Tidak nepotisme
tanpa keahlian dalam bidang-bidang tertentu. Dan tidak pula otoriter dalam
menentukan kebijakan. Seorang pemimpin harus mampu agresif dan efektif dalam
menentukan kebijakan yang akan dilakukan.
6.
Setidaknya ada 5 prinsip penting dari banyak
prinsip yang harus dikedepankan untuk menjadi seorang pemimpin. Begitu juga
dengan masyarakat luas yang bakal mencari dan memilih siapa pemimpin Daerah
Sumut masa depan. Seorang pemimpin harus benar-benar siap secara lahir batin
untuk menjadi seorang pemimpin yang benar.
Tanpa perilaku dan kebijakan yang sifatnya
“dadakan dan tumbenan” jangan sampai obral janji jangan sampai terkesan menjadi
pemimpin yang “munafik” yang berlainan antara ucapan, janji-janji dengan
perbuatan dan kebijakan pasca menjadi pemimpin. Semoga Daerah Sumut ini lebih
baik kedepannya ***
Sumber : Analisa Halaman 28, Jumat 18Mei 2012
Sabtu, 20 Oktober 2012
RAFLI
Aneuk Yatim download
Asai Nanggroe download
Ainal Marziah download
Ateh Bawah download
Blang Padang Masya download
Bungong Nanggroe download
Dara download
Do'a download
Hana Loen Sangka download
Hana Meuriti Banja Tan Saban download
Hoom download
Hoka Raja Loen download
Hasan Husein download
Husein Syahid download
Jak meudikee download
Jasa Poma download
Kembali download
Krueng Daroy download
Kutidhing download
Lahawla download
Merpati Putih download
Munkar Wanankir download
Mumang download
Mon Hayati download
Nabi Adam download
Nafsu download
Nyak Biet Beusaheh download
Payong Nabi download
Perahu download
Peusapeu Padan download
Peulara Lidah download
Peusaboh Hatee download
Ranup download
Sepasang Lembu Tua download
Seulanga download
Seulanga (Akustik) download
Saleum Aneuk Nanggroe download
Sibijeeh Mata download
Sukee 300 download
Surga Firdaus download
Ubat Hatee download
Yaa Rabbana download
ASAL MULA
AYAM WALIK (MANOEK BALEK)
Oleh : Marda Ridhovin
Selamat
berjumpa kembali sobat, pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan sebuah
dongen asal muasal manoek balek (ayam
balik / ayam walik) sebagi hiburan atau sebagai rasa untuk melepaskan suntuk
saya di kantor karena sedang sepi tidak ada pengunjung, cerita ini bukanlah
kenyataan tapi hanyalah hayalan semata dari saya. Bagai mana ceritanya??? Simak
saja di bawah ini.
Dahulu
kala di sebuah pegunungan lhee sagoe (tiga
segi) tepatnya dihutan rimba yang sangat luas dan lebat hutannya di wilayah
Aceh, disana terdapat sebuah pedesaan yang dinamakan dengan desa angen-angenan (angin-anginan), desa tersebut
diberi nama demikian karena sering terjadinya angin badai yang selalu melanda
desa itu. Di desa angen-angenan hidup sekelompok binatang yang bernama ayam
dengan status bisa dimakan.
Sekelompok
ayam didesa itu hidup dengan sangat rukun dan selalu berdampingan alias saling
ketergantungan satu samalainnya, sekelompok ayam tersebut dipimpin oleh seekor
ayam jantan yang sangat bijaksana dan selalu melindungi kelompoknya, dia juga
disegani oleh ayam-ayam lain. Mereka setiap hari semua bekerja mencari rezeki
makan dan minum dan juga kebutuhan sehari-hari mereka, tetapi didalam kedamaian
dan ketentraman hidup, mereka selalu mendapat tekanan dari beberapa ekor musang
yang tidak lain tidak bukan adalah musuh mereka.
Setiap
kali ada ayam-ayam yang bertelur setelah menetas para musang datang untuk meminta
salah satu anak ayam yang akan dijadikan santapan lezat para musang setelah
anak ayam itu berusia satu bulan. Ketika itu, induk ayam dari anak ayam yang
dipilih oleh musang cuma memiliki seekor anak yang menetas dari 7 butir telur
yang dia eram, musibah itu dia alami karena terjadinya gempa yang dahsyat
sehingga mengakibatkan dari 6 butir telurnya tidak dapat menetas lagi.
Induk
ayam tersebut memberikan perlawanan terhadap musang yang mendatangi dia, dia
tidak ingin anaknya untuk dijadikan korban kelaparan mereka karena dia cuma
memiliki seekor anak, namun para musang tidak perduli dan terus meminta anaknya
untuk dijadikan santapan, tidak hanya perlawanan mulut yang mereka lakukan,
induk ayam yang berusaha mencegah agar anaknya tidak diambil oleh para musang juga
berusaha menghajar musang-musang itu, tapi sayang perlawanannya berbuahkan
sia-sia karena induk ayam itu tidak dapat mengalahkan para musang, karena
merasal kesal dengan ulah ayam itu musang mengancam jika induk ayam itu tidak
mau memberikan anaknya mereka akan memakan keduanya dan yang pertama kali akan
dimakan adalah anaknya sebagai menu pembuka agar induk ayam tersebut menjadi
menderita saat melihat anaknya disantap para musang, setelah anaknya dimakan
barulah dia induknya dijadikan sebagai menu penutup oleh para musang itu.
Akhirnya
induk ayam tersebut punya cara untuk menyelamatkan anak dan dirinya dari
ganasnya para musang, ketika itu dia meminta pada para musang untuk membesarkan
anaknya sampai dewasa karena dia cuma memiliki seekor anak ayam jantan dan
ingin merawat sibuah hatinya yang masih kecil, setelah dewasa dia akan
merelakan anaknya untuk dijadikan santapan mereka, merasa takut di tipu oleh
induk ayam itu, para musang mengancam akan menyantap seluruh ayam-ayam yang ada
didesa angen-angenan itu jika induk ayam itu berbohong pada mereka. Karena
dirinya dan anaknya sudah merasa aman untuk sementara waktu, induk ayam
tersebut berjanji kepada para musang untuk meyakinkan mereka kalau dia tidak
akan berbohong.
Lalu
para musang pergi begitu saja meninggalkan induk ayam dan anaknya itu, merasa
kebingungan akhirnya induk ayam itupun pergi jauh membawa anaknya agar mereka
tidak diketahui lagi keberadaannya oleh para musang. Pemimpin ayam yang saat
itu merasa kehilangan seekor warganya mengerahkan seluruh masyarakat desa
angen-angenan untuk mencari seekor ayam yang menghilang itu termasuk dirinya
juga ikut mencari. Sekian lama mereka sudah mencari sampai berhari-hari tapi
induk ayam itu tidak ditemukan, akhirnya pemimpin mereka memberi keputusan
bahwa dia sudah dinyatakan tamat oleh binatang buas lainnya.
Setelah
beberapa lama waktunya hingga anak ayam itu tumbuh menjadi dewasa sudah menjadi
ayam jantan yang sangat perkasa, induk ayam itu teringat akan janjinya kalau
dia berbohong kepada para musang itu maka meraka akan melenyapkan semua
ayam-ayam di desa angen-angenan, lalu induk ayam dan anaknya kembali kembali
kedesa dimana tempat dia menetaskan anaknya dulu, begitu dia kembali semua
ayam-ayam itu mengerumuninya dan bertanya kabarnya serta hilang kemana dia
dulu, ketika itu induk ayam tersebut bercerita tentang semua apa yang
dialaminya sampai akhirnya dia kembali kesitu.
Lalu
induk ayam tersebut dan anaknya dihadapkan kepada pemimpin mereka dan
menceritakan hal yang sama seperti apa yang dia alami, akhirnya pemimpin mereka
memutuskan untuk menggantikan dirinya dengan anak ayam jantan itu sebagai
santapan para musang sebagai bukti bahwa dia adalah pemimpin yang selalu
melindungi rakyatnya, sebelum dia berhadapan dengan para musang itu dia memberi
wasiat kepada seluruh masyarakat didesa itu apabila para musang mau menerimanya
sebagai pengganti si ayam jantan itu maka anak ayam jantan itu akan menjadi
pemimpin mereka karena dia melihat ayam jantan itu memiliki jiwa pemimpin sama
seperti pemimpin mereka yang saat ini.
Tiga
hari setelah itu, lalu para musang datang menagih janji induk ayam dulu untuk
mengambil anaknya, ayam betinapun menyetujuinya dengan syarat dia ingin
menghadap kepada para pemimpinnya terlebih dahulu, sebagai laporan anaknya akan
dibawa para musang untuk dimakan. Para musang setuju dan mengantarnya kepada
pemimpin ayam-ayam itu, lalu disanalah pemimpin ayam ini melakukan negosiasi
dengan para musang untuk membebaskan ayam jantan itu dari perjanjiannya dengan
induknya tempo dulu, dia akan menggantikan ayam jantan itu untuk dimakan oleh
para musang, lalu dibawanya pemimpin ayam ini kedalam hutan oleh musang-musang
yang kelaparan ini dan ayam jantan itupun sudah menerima wasiaat dari pemimpin
mereka.
Setibanya
di hutan, para musang langsung menerkam leher korbannya dan akhirnya dia
langsung terjatuh dan bersimbah darah karena gigitan musang dilehernya, tak
lama kemudian setelah pemimpin ayam ini habis dimakan oleh parang musang
kembali angin kencang melanda desa angen-angenan, ayam jantan yang baru saja menggantikan
pemimpin mereka sebelumnya berusaha mengerahkan seluruh ayam-ayam lainnya untuk
menyelamatkan diri, semua ayam-ayam itu berlari ke gua kecil tempat
persembunyian mereka sedangkan ayam jantan ini pemimpin baru mereka setelah
sibuk menyelamatkan rakyatnya untuk bersembunyi, dia tidak tahu harus
bersembunyi dimana karena dia baru mengenal tempat itu, sedangkan ibunya sudah
lebih dulu berlari untuk menyelamatkan diri karena anaknya yang minta.
Disaat
ayam jantan ini berlari berusaha mencari perlindungan lalu dia diterbangkan
oleh angin kencang hingga kepalanya tersangkut di pohon kecil yang bercabang,
dan angin terus berhembus dari arah belakang ayam jantan itu sehingga membuat
bulu-bulunya yang indah menjadi berdiri dan bebalik arah. Begitu anginnya
berhenti bulu-bulunya tidak bisa kembali lagi seperti semula, hingga akhirnya
di berkeluarga dan memiliki beberapa keturunan yang bulunya terbalik seperti
ayahnya (pemimpin ayam itu), dari situlah manoek
balek (ayam balik / ayam walik) ini terus berkembang hingga
kepelosok-pelosok desa dan dibudidayakan oleh manusia.