Sabtu, 20 Oktober 2012


ASAL MULA AYAM WALIK (MANOEK BALEK)
Oleh : Marda Ridhovin

Selamat berjumpa kembali sobat, pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan sebuah dongen asal muasal manoek balek (ayam balik / ayam walik) sebagi hiburan atau sebagai rasa untuk melepaskan suntuk saya di kantor karena sedang sepi tidak ada pengunjung, cerita ini bukanlah kenyataan tapi hanyalah hayalan semata dari saya. Bagai mana ceritanya??? Simak saja di bawah ini.

Dahulu kala di sebuah pegunungan lhee sagoe (tiga segi) tepatnya dihutan rimba yang sangat luas dan lebat hutannya di wilayah Aceh, disana terdapat sebuah pedesaan yang dinamakan dengan desa angen-angenan (angin-anginan), desa tersebut diberi nama demikian karena sering terjadinya angin badai yang selalu melanda desa itu. Di desa angen-angenan hidup sekelompok binatang yang bernama ayam dengan status bisa dimakan.

Sekelompok ayam didesa itu hidup dengan sangat rukun dan selalu berdampingan alias saling ketergantungan satu samalainnya, sekelompok ayam tersebut dipimpin oleh seekor ayam jantan yang sangat bijaksana dan selalu melindungi kelompoknya, dia juga disegani oleh ayam-ayam lain. Mereka setiap hari semua bekerja mencari rezeki makan dan minum dan juga kebutuhan sehari-hari mereka, tetapi didalam kedamaian dan ketentraman hidup, mereka selalu mendapat tekanan dari beberapa ekor musang yang tidak lain tidak bukan adalah musuh mereka.

Setiap kali ada ayam-ayam yang bertelur setelah menetas para musang datang untuk meminta salah satu anak ayam yang akan dijadikan santapan lezat para musang setelah anak ayam itu berusia satu bulan. Ketika itu, induk ayam dari anak ayam yang dipilih oleh musang cuma memiliki seekor anak yang menetas dari 7 butir telur yang dia eram, musibah itu dia alami karena terjadinya gempa yang dahsyat sehingga mengakibatkan dari 6 butir telurnya tidak dapat menetas lagi.

Induk ayam tersebut memberikan perlawanan terhadap musang yang mendatangi dia, dia tidak ingin anaknya untuk dijadikan korban kelaparan mereka karena dia cuma memiliki seekor anak, namun para musang tidak perduli dan terus meminta anaknya untuk dijadikan santapan, tidak hanya perlawanan mulut yang mereka lakukan, induk ayam yang berusaha mencegah agar anaknya tidak diambil oleh para musang juga berusaha menghajar musang-musang itu, tapi sayang perlawanannya berbuahkan sia-sia karena induk ayam itu tidak dapat mengalahkan para musang, karena merasal kesal dengan ulah ayam itu musang mengancam jika induk ayam itu tidak mau memberikan anaknya mereka akan memakan keduanya dan yang pertama kali akan dimakan adalah anaknya sebagai menu pembuka agar induk ayam tersebut menjadi menderita saat melihat anaknya disantap para musang, setelah anaknya dimakan barulah dia induknya dijadikan sebagai menu penutup oleh para musang itu.

Akhirnya induk ayam tersebut punya cara untuk menyelamatkan anak dan dirinya dari ganasnya para musang, ketika itu dia meminta pada para musang untuk membesarkan anaknya sampai dewasa karena dia cuma memiliki seekor anak ayam jantan dan ingin merawat sibuah hatinya yang masih kecil, setelah dewasa dia akan merelakan anaknya untuk dijadikan santapan mereka, merasa takut di tipu oleh induk ayam itu, para musang mengancam akan menyantap seluruh ayam-ayam yang ada didesa angen-angenan itu jika induk ayam itu berbohong pada mereka. Karena dirinya dan anaknya sudah merasa aman untuk sementara waktu, induk ayam tersebut berjanji kepada para musang untuk meyakinkan mereka kalau dia tidak akan berbohong.

Lalu para musang pergi begitu saja meninggalkan induk ayam dan anaknya itu, merasa kebingungan akhirnya induk ayam itupun pergi jauh membawa anaknya agar mereka tidak diketahui lagi keberadaannya oleh para musang. Pemimpin ayam yang saat itu merasa kehilangan seekor warganya mengerahkan seluruh masyarakat desa angen-angenan untuk mencari seekor ayam yang menghilang itu termasuk dirinya juga ikut mencari. Sekian lama mereka sudah mencari sampai berhari-hari tapi induk ayam itu tidak ditemukan, akhirnya pemimpin mereka memberi keputusan bahwa dia sudah dinyatakan tamat oleh binatang buas lainnya.

Setelah beberapa lama waktunya hingga anak ayam itu tumbuh menjadi dewasa sudah menjadi ayam jantan yang sangat perkasa, induk ayam itu teringat akan janjinya kalau dia berbohong kepada para musang itu maka meraka akan melenyapkan semua ayam-ayam di desa angen-angenan, lalu induk ayam dan anaknya kembali kembali kedesa dimana tempat dia menetaskan anaknya dulu, begitu dia kembali semua ayam-ayam itu mengerumuninya dan bertanya kabarnya serta hilang kemana dia dulu, ketika itu induk ayam tersebut bercerita tentang semua apa yang dialaminya sampai akhirnya dia kembali kesitu.

Lalu induk ayam tersebut dan anaknya dihadapkan kepada pemimpin mereka dan menceritakan hal yang sama seperti apa yang dia alami, akhirnya pemimpin mereka memutuskan untuk menggantikan dirinya dengan anak ayam jantan itu sebagai santapan para musang sebagai bukti bahwa dia adalah pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya, sebelum dia berhadapan dengan para musang itu dia memberi wasiat kepada seluruh masyarakat didesa itu apabila para musang mau menerimanya sebagai pengganti si ayam jantan itu maka anak ayam jantan itu akan menjadi pemimpin mereka karena dia melihat ayam jantan itu memiliki jiwa pemimpin sama seperti pemimpin mereka yang saat ini.

Tiga hari setelah itu, lalu para musang datang menagih janji induk ayam dulu untuk mengambil anaknya, ayam betinapun menyetujuinya dengan syarat dia ingin menghadap kepada para pemimpinnya terlebih dahulu, sebagai laporan anaknya akan dibawa para musang untuk dimakan. Para musang setuju dan mengantarnya kepada pemimpin ayam-ayam itu, lalu disanalah pemimpin ayam ini melakukan negosiasi dengan para musang untuk membebaskan ayam jantan itu dari perjanjiannya dengan induknya tempo dulu, dia akan menggantikan ayam jantan itu untuk dimakan oleh para musang, lalu dibawanya pemimpin ayam ini kedalam hutan oleh musang-musang yang kelaparan ini dan ayam jantan itupun sudah menerima wasiaat dari pemimpin mereka.

Setibanya di hutan, para musang langsung menerkam leher korbannya dan akhirnya dia langsung terjatuh dan bersimbah darah karena gigitan musang dilehernya, tak lama kemudian setelah pemimpin ayam ini habis dimakan oleh parang musang kembali angin kencang melanda desa angen-angenan, ayam jantan yang baru saja menggantikan pemimpin mereka sebelumnya berusaha mengerahkan seluruh ayam-ayam lainnya untuk menyelamatkan diri, semua ayam-ayam itu berlari ke gua kecil tempat persembunyian mereka sedangkan ayam jantan ini pemimpin baru mereka setelah sibuk menyelamatkan rakyatnya untuk bersembunyi, dia tidak tahu harus bersembunyi dimana karena dia baru mengenal tempat itu, sedangkan ibunya sudah lebih dulu berlari untuk menyelamatkan diri karena anaknya yang minta.

Disaat ayam jantan ini berlari berusaha mencari perlindungan lalu dia diterbangkan oleh angin kencang hingga kepalanya tersangkut di pohon kecil yang bercabang, dan angin terus berhembus dari arah belakang ayam jantan itu sehingga membuat bulu-bulunya yang indah menjadi berdiri dan bebalik arah. Begitu anginnya berhenti bulu-bulunya tidak bisa kembali lagi seperti semula, hingga akhirnya di berkeluarga dan memiliki beberapa keturunan yang bulunya terbalik seperti ayahnya (pemimpin ayam itu), dari situlah manoek balek (ayam balik / ayam walik) ini terus berkembang hingga kepelosok-pelosok desa dan dibudidayakan oleh manusia.

Demikian dulu cerita manoek balek (ayam walik) ini saya kisahkan, didalam cerita ini juga terdapat beberapa pelajaran yang dapat kita ambil tergantung kita sendiri sebagai pembaca yang mengartikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar